Marriage: When Fairytale Meets Reality

Will you marry me?

These four life-changing words have been haunting me for a while. Like many other girls in long-term relationships, I waited anxiously for the day I’d get to say yes. But does anyone really know what they’re saying yes to?

When you’re in your late twenties, it seems your entire network of friends and acquaintances pair up, some in a desperate frenzy to not end up alone. And not a beat too late, Facebook obnoxiously fills your smartphone with photos of rings, babies, and every wedding-related detail you never cared to know.

In the same way people say that you’re never really ready for marriage or you’re never really ready for a baby either. And it’s not because you don’t love the person or don’t enjoy their company. It is all about being with a person who is as complex and imperfect as you are, and accepting them for it. And it is about being with someone whose ability to bring out both the best and worst in you brings you to your knees.

When we were growing up, we learned that couples in fairy tales always lived “happily ever after.” But we never discussed what happened after “happily ever after.” Like many girls, I read fairy tales like Cinderella, hoping to one day meet my prince and live happily ever after. Unfortunately, most fairy tales give us an unrealistic picture of what our life with the prince will be like. Thankfully, I learned that marriage isn’t a fairy tale. And girls need to stop searching for Prince Charming, because he only exists in books and movies.

Chasing the fairy tale leads many women to jump into marriage quickly when they experience immediate chemistry with someone. A good marriage is a commitment to complete half of religion, honor and support each other and it shouldn’t be taken lightly. It’s harder to build that with someone you didn’t get to know. We are taking two people who have come from different households and maybe different backgrounds and expecting them to just get along. Fairy tales don’t include that.

In this country, we do not teach people how to be married, and this is one of the failings of our system. Even marriage that seem to be made in heaven will require attention and maintenance. That is why so many fairy tale romances fall apart when the imperfections show.

What does it really means to form a partnership and marriage with someone? To meet someone and eventually make the decision to share a life together. To be brave enough to embark on a journey that is ridiculously fraught with imperfections. To give over a piece of your heart and in turn accept another person’s heart Then you have to creating your own happily ever after on a more realistic level.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Friendship Definitons

Lately, I’ve been learning a lot of new definitons of friendship for life. It’s easy to have a friend to hang out with, but it’s never easy  to build a friendship to share our life with. That’s the only reason why the older you are, the less bestfriends you will have around.

Why do I say building a friendship is tough?

Friendship is accepting your friends’ imperfections and forgiving all their mistakes.

Friendship is swallowing our desire to envy, to revenge, and to do all the bad things that we can think of.

And friendship is sticking up together even when we hate each other.

Now… do you still think it’s easy to build?

It’s hard, that’s why it’s being said that friendship is actually a gift from us to ourselves. When we can push ourselves to be a decent friend to someone else, then we will also get a decent friend  for ourselves as a return.

It may take only months, but most of the times, you may need quite some years just to realize who your true best friends really are.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Let’s vote for a better tomorrow.

Pilkada Jakarta tahun ini, sesuai prediksi, udah jadi lebih menghebohkan daripada Pilpres Indonesia terakhir. “Kampanye” di mana-mana, permusuhan di mana-mana, saling menghina dan saling menyudutkan tanpa pandang bulu, belum lagi media massa plus hoax provokatif berebaran hampir tiap jam tiap harinya. Bukan cuma menghebohkan Jakarta, tapi sampai ke hampir semua kota lainnya di Indonesia!

Akibatnya? 

Putus tali silaturahmi. Nggak lagi saling tegur sapa. Atau yang sepele, unfriend di social media. Social media seolah berubah mejadi “the war zone”. Tentu tidak ada yang salah dari berbagi berita.. tapi seringkali, caption yang menyertai bisa terasa lebih panas membara daripada isi berita yang biasanya sudah cukup provokatif itu.

Saya pribadi tidak mengerti kenapa mesti sampai sebegitunya. Membela sesuatu yang kita yakini kebenarannya tidak mesti diiringi dengan balas menyerang kubu seberang. Balas menghina hanya akan membuat kita turun ke level yang sama dengan orang lebih dulu menghina pilihan kita itu. Setidaknya buat saya, sangat tidak worth it kehilangan teman, sahabat, kolega, apalagi anggota keluarga hanya karena berbeda pilihan.

Kalo saya nggak mau berhubungan dengan pendukung no. 3, saya akan kehilangan banyak banget keluarga besar yang menemani saya puluhan tahun lamanya. 

Kalo saya enggak mau berteman dengan pendukung no. 2, saya akan kehilangan beberapa sahabat yang udah terbukti selalu siap membantu dalam masa-masa sulit.

Dan kalo saya enggak mau berteman dengan pendukung no. 1, saya akan kehilangan beberapa rekan kerja yang pernah berkontribusi dalam membangun karier gue dulu.

Siapapun paslon yang kita dukung, bagaimanapun, tetap bukan mereka yang kelak akan mengulurkan tangan saat kita membutuhkan bantuan. Bukan mereka yang sudah menemani perjalanan hidup kita belasan atau puluhan tahun lamanya. Boleh mendukung, ikut berkampanye, tapi jangan berlebihan. Dan sekali lagi, boleh saja membela pilihan kita masing-masing, tapi tidak usah balas menghina apalagi dengan sesuatu yang belum terbukti kebenarannya.

Don’t make all those provocators dancing on the chaos they make. No matter who you vote for, let’s vote for a better tomorrow.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Oh well, there’s still tomorrow

Since he had gone I’ve been lonely. Longing to be with him only. Maybe there’s still is a way I can find him and say just how I feel.

I can’t believe that’s it’s over. Wish somehow I could have showed him. All that was inside of my heart instead of playing the games. He might have stayed.

It’s funny just the other night I was thinking and I wonder if he ever think about me. I call him on the phone, there’s no answer. I was thinking maybe I could come over. Hoping we could finally work this out. Even if tonight we don’t find an answer.

Oh Well, there’s still tomorrow and I’ll try again.

If I had another chance, we would stand hand in hand. I’ll be your girl and you’ll be my man.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Put your families first

I used to think that I was not so much of family person. I was very into a career, hobbies, and all the things to do with everything this life has to offer. But then at some point, as many things happened, many people left and moved on with their very own life. And then, I started to realize that at least:

Everytime I make mistakes, my families always find a way to forgive me.

Everytime I’m sick, my families will be the ones taking care of me.

Everytime I’m hurt, my families will always be on my corner no matter what.

Everytime I’m defeated, my families are there to support my back.

And everytime I’m winning, my families are genuinely celebrating my victories with me.

At this point, I’ve started believing that we should really find a life partner who has a very strong bond with their own families because staying close to families for decades is never an easy thing. If they manage to do that with their families, then most likely, when someday we are a part of their future families as their husband or wife, they will also be able to commit with us as a lifetime partner.

The real families won’t break our heart. When things are broken, we fix them together. They make time for us. They don’t walk away when things between us got ugly. At the end of the day, they are the only ones who will always wait for us to come back home.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sabar dalam menghadapi ujian hidup

Tahun 2016 lalu memang tahun yang kurang baik bagi saya. Penolakan demi penolakan saya hadapi. Kegagalan demi kegagalan saya lakoni. Penyakit yang datang silih berganti pun saya jalani. Yang dapat saya lakukan saat itu hanya tetap husnudzan kepada Allah SWT.

Selama tahun 2016 lalu, ibu saya adalah orang yang paling khawatir dengan keadaan saya. Ibu mana yang tidak akan cemas jika melihat anaknya ditimpa berbagai ujian. Mungkin ibu saya takut jika nantinya saya akan putus asa dan kehilangan harapan.

Sabar ma, inshaa Allah di tahun 2017 ini segala ujian akan berakhir. Terimakasih sudah mencemaskan saya. Mungkin inilah alat yang menjadi bahan pertimbangan Allah untuk mengangkat derajat manusia, jika mereka sabar menghadapi musibah niscaya akan berbuah manis.

Saya meyakini hikmah dari segala ujian yang saya alami merupakan
obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada diri, sekaligus sebagai tolak-ukur kepribadian seorang Muslim yang senantiasa berprasangka baik terhadap takdir Allah, baik itu dalam keadaan senang maupun susah.

Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka diuji. Besarnya ujian sesuai dengan besarnya balasan yang akan diterima jika mereka mau bersabar. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pertolongan Pertama pada Kulit Alergi

Beberapa minggu yang lalu saya sempet terkena alergi kulit yang gejalanya gatal, panas, ruam, pori-pori membesar, dan kulit kering kusam. Alergi ini sudah sering saya alami juga sebelumnya. Penyebabnya kurang lebih sama yaitu faktor perubahan cuaca serta gatal delusional akibat dari stress dan perubahan hormon (baca psychogenic hives).

Saya sempat konsultasi masalah alergi ini dengan seorang dokter kulit. Dia menyarankan untuk memakai sabun antiseptik untuk mengurangi efek alergi dan penyebaran kuman di kulit. Saya langsung refer ke Dettol. Kenapa Dettol? Karena udah lama saya freak banget sama produk-produk Dettol mulai dari sabun tangan, sabun batangan, sabun cair, hand sanitizer, tissue basah, laundry cleaner sampai disinfectant spray-nya.

Sayangnya, sudah hampir setahun saya nggak lagi mandi pakai sabun mandi Dettol, karena saya lebih pilih pakai sabun mandi cantik alias sabun kecantikan semacam shower gel atau shower cream. Selain pakai Dettol, saya juga pakai lotion yang mengandung Aloe Vera karena bisa membantu menenangkan kulit dan mengurangi efek alergi. 

1. Dettol Gold Classic Clean

Awalnya saya mau beli sabun cair Dettol yang biasa, tapi di rak persabunan saya menemukan Dettol Gold ini dan warna cairan sabunnya yang eyecatching. Harganya juga paling mahal dibandingkan varian sabun dettol lainnya. Makanya saya jadi penasaran untuk mencoba dan langsung ambil varian ini.

Wanginya lumayan enak cuma tetap ada campuran bau antiseptik ala Dettol. Tapi menurut saya nggak masalah sih malah saya jadi tersugesti dengan perasaan bersih dan hygienis setiap habis mandi. Selain itu, sabun ini sangat membantu saya untuk mengurangi gatal karena alergi. 


2. Dettol Antiseptic Liquid

Setelah mandi dengan sabun Dettol Gold, saya biasanya menuangkan cairan antiseptik Dettol ini ke dalam bathtub untuk berendam. Cairannya tinggal dituang begitu saja ke dalam bathtub dengan takaran satu tutup botol.

Setelah beberapa kali pemakaian, ternyata bentol-bentol merah di kulit saya berangsur berkurang. Terus serunya lagi dettol ini juga bisa untuk menghilangkan bau badan yang tidak sedap.
3. Nature Republic Aloe Vera Soothing Gel

Selesai mandi, saya langsung mengoleskan Nature Republic Aloe Vera Soothing Gel ini ke kulit yang masih lembab. Saya beli produk ini di Metro Grand Indonesia dengan harga sekitar 80ribu. Gel ini wanginya segar kayak wangi timun.

Saya pernah baca sebuah artikel bahwa kandungan Aloe Vera bagus untuk menenangkan dan memberikan efek dingin pada kulit yang alergi sehingga meminimalisir saya untuk menggaruk. Gel ini juga gampang banget meresap. Jadi nggak meninggalkan kesan lengket yang mengganggu serta memberi kelembaban ekstra. 

Ketiga cara diatas terbukti ampuh untuk mengatasi alergi saya akibat perubahan cuaca. Sedangkan untuk mengatasi gatal karena stres tentunya dengan menangani gangguan kejiwaan itu sendiri. Menemukan dan menghadapi sumber stres.

Saat stres berkurang, gatal-gatal yang saya rasakan pun biasanya akan berangsur-angsur hilang. Maka, selain cara diatasnya penting juga bagi saya untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri guna mengusir stres dan menyembuhkan alergi. Nggak lupa juga saya minum obat pereda alergi dari Dokter.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar